KH. Muhammad Hasyim Adnan
Dai dan orator ulung Jakarta, turut mendirikan MUI, Dewan Masjid Indonesia, dan Ittihadul Muballighin. Nama Al-Hasyimiyyah diambil dari namanya.
Lebih dari lima dekade menyiapkan dai, pendidik, dan ahli hukum Islam dari Kayu Manis, Jakarta Timur.
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ
Al-Aqidah lahir dari sebuah kursus dakwah di Kayu Manis pada 1974: ikhtiar KH. Muhammad Hasyim Adnan menyiapkan dai bagi Jakarta. Kini ia tumbuh menjadi institut dengan dua fakultas, tetap berpijak pada tradisi lisan dan kajian turats.
KH Hasyim Adnan pindah ke Jalan Kayu Manis dan membuka kursus dakwah untuk mencetak dai bagi Jakarta. Lahan di Jl. Kayu Manis Barat No. 99 diwakafkan oleh H. Mukhtar Sanusi. Dari kursus inilah lahir Akademi Ilmu Dakwah (AKIDAH).
AKIDAH berkembang menjadi Perguruan Tinggi Ilmu Dakwah (PTID) Al-Aqidah, dengan rektor pertama Prof. KH. Saefudin Zuhri, mantan Menteri Agama RI dan tokoh NU.
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang kelak menjadi Presiden RI ke-4, melanjutkan kepemimpinan sebagai rektor.
Kampus berbentuk Sekolah Tinggi Agama Islam dan menyandang nama Al-Hasyimiyyah, mengabadikan nama sang pendiri.
Program studi baru dibuka sehingga Al-Aqidah memiliki enam program studi jenjang Sarjana, ditambah Ma’had Aly sebagai pesantren mahasiswa.
Kementerian Agama RI menerbitkan izin Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam.
Berstatus Institut Agama Islam (IAI) Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta dengan dua fakultas: Syariah dan Dakwah serta Tarbiyah.
Dai dan orator ulung Jakarta, turut mendirikan MUI, Dewan Masjid Indonesia, dan Ittihadul Muballighin. Nama Al-Hasyimiyyah diambil dari namanya.
Mantan Menteri Agama Republik Indonesia dan tokoh Nahdlatul Ulama.
Gus Dur, cendekiawan Muslim dan Presiden Republik Indonesia ke-4.